Home / NASIONAL / KAPOLRI: PENGAKUAN LUTHFI DISIKSA DAN DISETRUM POLISI, BISA JADI BOOMERANG

KAPOLRI: PENGAKUAN LUTHFI DISIKSA DAN DISETRUM POLISI, BISA JADI BOOMERANG

NEWSULSEL.com, JAKARTA – Kapolri Jenderal Idham Azis menyikapi pengakuan Dede Luthfi Alfiandi (20), demonstran yang viral lantaran Ia membawa bendera Indonesia saat demo di DPR mengaku dipersekusi oleh polisi saat menjalani pemeriksaan.

Idham Azis mengatakan pengakuan tersebut harus bisa dipertanggung jawabkan oleh Luthfi, karena jika tidak terbukti justru akan memberatkan dirinya sendiri.

“Kalau juga tidak benar itu pengakuan juga bisa menjadi bahan fitnah tentunya, bisa jadi Boomerang bagi yang bersangkutan (Luthfi) sehingga kita harus hati-hati dan waspada,” jelas Idham Azis saat dijumpai kurawa Newsulsel.com di Kompolnas, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat 24 Januari 2020.

Meskipun demikian adanya, Mantan Kapolda Metro Jaya Idham Azis, mengklaim siap bertanggungjawab jika anggotanya benar melakukan kekerasan terhadap Luthfi dengan memerintahkan Kadiv Propam Polri Irjen Ignatius Sigit Widiatmono membentuk tim untuk melakukan pemeriksaan.

“Ya nanti sudah dibentuk ada Kadiv Propam, tim akan kami periksa, apa benar polisi melakukan itu, kalau benar saya sudah minta ditindak tegas,” klaimnya

Sebelumnya, dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Luthfi mengaku disiksa dan dipaksa mengakui terlibat melakukan penyerangan kepada aparat saat demo anak STM di DPR September 2019 lalu.

Di depan majelis hakim, Luthfi mengaku disetrum oleh penyidik sekitar 30 menit dan disuruh mengaku ikut menyerang aparat saat demo dengan menggunakan batu.

“Saya disuruh duduk, terus disetrum, ada setengah jam lah. Saya disuruh ngaku kalau lempar batu ke petugas, padahal saya tidak melempar,” kata Luthfi saat sidang kasusnya di gelar.

Tak hanya disetrum, Luthfi mengaku mengalami penyiksaan lainnya saat menjalani pemerikaan di Polres Metro Jakarta Pusat.

Lantaran tak tahan disiksa, akhirnya Luthfi menuruti kemauan penyidik yang memeriksanya, meski dirinya tak melakukan tuduhan tersebut

“Saya saat itu tertekan, makanya saya bilang akhirnya saya lempar batu. Saat itu kuping saya dijepit, disetrum, disuruh jongkok juga,” ungkapnya.

Dia mengatakan, aksi penyiksaan itu baru terhenti setelah penyidik Polres Jakpus mengetahui foto viral pemuda pembawa bendera saat demo adalah dirinya.

“Polisi nanya, apakah benar saya yang fotonya viral. Terus pas saya jawab benar, lalu mereka berhenti menyiksa saya,” katanya lagi.

Dalam kasus ini, jaksa melayangkan tiga dakwaan alternatif kepada Luthfi, yaitu Pasal 212 jo Pasal 214 ayat (1) KUHP, Pasal 170 KUHP, serta Pasal 218 KUHP….(Wr/Ns.c).

Lp. Putri
Editor. Andi PW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *