SAKSI UNGKAP SEBELUM PEMBATAIAN ROS, DI BANTAENG IA DIMINTA OLEH PELAKU NIKAHI ADIKNYA

NEWSULSEL.com, BANTAENG – Irfandi, 18 tahun, salah satu korban penyanderaan membeberkan peristiwa menegangkan, yang ia alami di sebuah rumah panggung, Kampung Katabung, Desa Pattaneteang, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan Sabtu, 9 Mei 2020.

Kepada Polisi, Irfandi bersaksi bahwa sebelum pemembunuhan Rosmin, Irfandi sempat diminta nikah dengan Rosmini untuk menutupi Siri (malu)’ keluarga atau istilah aib dalam budaya Sulawesi Selatan.

Rencananya kami akan lakukan gelar perkara untuk menentukan penerapan pasal kasus pembunuhan ini.

“Motif penyanderaan Irfandi, karena kebetulan lewat kemudian diajak masuk ke rumah. Irfandi adalaah tetangga keluarga itu. Didalam rumah Irfandi ditawarkan untuk menikah dengan adiknya Rosmini, namun dia menolak karena masih terlalu muda,” ujar Kapolres Bantaeng, AKBP Wawan Sumantri, Minggu, 10 Mei 2020.

Kepolisian mengkonfirmasi bahwa hasil pemeriksaan sementara, ROS dibunuh keluarganya akibat telah berhubungan intim dengan US alias Sumang, 45 tahun, yang tak lain masih kerabat keluarga tersebut.

Akibatnya, Rahman kakak kandung ROS sempat mengejar Sumang menggunakan parang. Akibatnya Sumang terkena sabetan parang di bagian kuping.

Setelah itu, korban lainnya yakni EN, 25 tahun, sempat melihat kejadian tersebut. Mengetahui aksinya dilihat, Rahman berbalik arah dan mengejar EN hingga akhirnya kena sabetan senjata tajam pada bagian kepala.

Atas serentetan peristiwa ini, Kapolres Wawan Sumantri meminta korban lainnya untuk melaporkan tindak pidana penganiayaan.

Khusus untuk pembacokan ROS hingga tewas mengenaskan, petugas masih dalam proses pemeriksaan terhadap kesembilan anggota keluarga tersebut.

Namun untuk penerapan pasal, kata Wawan, sejauh ini masih dipersangkakan pasal kekerasan terhadap anak dan pembunuhan.

“Rencananya kami akan lakukan gelar perkara untuk menentukan penerapan pasal kasus pembunuhan ini. Kalau didapati ada unsur pembunuhan berencana maka akan diancam hukuman seumur hidup atau mati,” sebut AKBP Wawan Sumantri…(Wr/Ns.c).

Lp. Bang Fly
Editor. Andi PW